E-Seminar Nasional STIE Kasih Bangsa Cyber Security: Phishing Berkedok Berkah (Dari Kepercayaan ke Kerugian dalam Sekejap)
Jakarta, 10 Juni 2026 – Transformasi digital yang semakin masif telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari komunikasi, pendidikan, perdagangan, hingga layanan keuangan. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, ancaman kejahatan siber (cybercrime) juga berkembang dengan semakin kompleks dan beragam. Salah satu bentuk kejahatan siber yang saat ini menjadi perhatian global adalah phishing, yaitu upaya penipuan yang dilakukan dengan menyamar sebagai pihak terpercaya untuk memperoleh informasi pribadi, data keuangan, maupun akses terhadap akun digital korban.
Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam meningkatkan literasi digital dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keamanan informasi, STIE Kasih Bangsa menyelenggarakan E-Seminar Nasional bertajuk “Cyber Security: Phishing Berkedok Berkah (Dari Kepercayaan ke Kerugian dalam Sekejap)” pada 10 Juni 2026 melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, praktisi teknologi informasi, pelaku usaha, serta masyarakat umum dari berbagai wilayah di Indonesia.
Seminar nasional ini menjadi wadah edukasi dan diseminasi pengetahuan mengenai berbagai modus kejahatan siber yang semakin marak terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang digital. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh wawasan komprehensif mengenai karakteristik serangan phishing, dampaknya terhadap individu maupun organisasi, serta strategi mitigasi yang dapat diterapkan untuk melindungi data dan aset digital.
Acara dibuka dengan keynote speech yang disampaikan oleh Bapak Benardi, S.Kom., M.M., yang menegaskan bahwa keamanan siber bukan lagi isu yang hanya menjadi tanggung jawab para ahli teknologi informasi, melainkan telah menjadi kebutuhan fundamental bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi digital, sistem pembayaran elektronik, layanan berbasis cloud, serta pemanfaatan kecerdasan buatan telah menciptakan ekosistem digital yang semakin terintegrasi. Kondisi tersebut memberikan peluang besar bagi peningkatan produktivitas dan inovasi, namun juga membuka ruang bagi munculnya berbagai risiko keamanan digital apabila tidak diimbangi dengan literasi dan kesadaran yang memadai.
“Keamanan siber saat ini bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan perilaku dan budaya digital. Sebagian besar serangan siber berhasil bukan karena lemahnya sistem teknologi, melainkan karena kurangnya kewaspadaan pengguna terhadap berbagai modus manipulasi yang dilakukan pelaku kejahatan. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital harus menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang adaptif dan tangguh di era transformasi digital,” ujar Benardi.
Seminar menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang teknologi informasi dan keamanan siber, yaitu Ardian Oktavian dan Pradipa Rahmanto. Kedua narasumber memberikan perspektif yang komprehensif mengenai fenomena phishing yang saat ini menjadi salah satu ancaman keamanan digital paling dominan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dalam sesi pertama, Ardian Oktavian menjelaskan bahwa phishing merupakan bentuk serangan yang dirancang untuk mengeksploitasi faktor psikologis manusia melalui pendekatan rekayasa sosial (social engineering). Berbeda dengan serangan yang memanfaatkan celah teknis pada sistem komputer, phishing lebih banyak mengandalkan manipulasi kepercayaan korban agar secara sukarela memberikan informasi yang bersifat rahasia.
Menurutnya, pelaku phishing saat ini semakin kreatif dalam menciptakan skenario penipuan yang tampak meyakinkan. Modus yang digunakan tidak lagi terbatas pada email palsu, tetapi juga berkembang melalui media sosial, aplikasi perpesanan instan, situs web tiruan, hingga panggilan telepon yang mengatasnamakan institusi resmi.
“Pelaku biasanya memanfaatkan emosi korban, seperti rasa takut, rasa penasaran, ataupun keinginan memperoleh keuntungan secara cepat. Tawaran hadiah, bantuan sosial, investasi menguntungkan, hingga informasi mengenai akun yang diklaim bermasalah sering kali digunakan sebagai umpan untuk memperoleh data pribadi korban,” jelas Ardian.
Lebih lanjut, Ardian memaparkan sejumlah kasus phishing yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan menyebabkan kerugian finansial yang tidak sedikit. Ia menekankan bahwa korban kejahatan siber tidak hanya berasal dari masyarakat awam, tetapi juga individu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dan pengalaman digital yang cukup baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa ancaman phishing dapat menyasar siapa saja apabila kewaspadaan tidak terus ditingkatkan.
Sementara itu, pada sesi berikutnya, Pradipa Rahmanto mengulas berbagai strategi perlindungan data dan langkah-langkah preventif yang dapat diterapkan oleh individu maupun organisasi dalam menghadapi ancaman phishing. Ia menegaskan bahwa pendekatan keamanan siber yang efektif harus menggabungkan aspek teknologi, kebijakan, dan perilaku pengguna.
Beberapa langkah mitigasi yang direkomendasikan antara lain melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima melalui media digital, tidak mudah mengklik tautan yang mencurigakan, menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda pada setiap akun, mengaktifkan autentikasi dua faktor (two-factor authentication), serta memperbarui perangkat lunak secara berkala untuk menutup potensi celah keamanan.
Selain itu, Pradipa juga menyoroti pentingnya pengelolaan data pribadi di era digital. Menurutnya, informasi yang tampak sederhana seperti nomor telepon, alamat email, tanggal lahir, atau identitas media sosial dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk membangun skenario penipuan yang lebih meyakinkan.
“Perlindungan data pribadi harus dimulai dari kesadaran setiap individu. Semakin banyak informasi pribadi yang tersebar di ruang digital tanpa pengamanan yang memadai, semakin besar pula risiko penyalahgunaan data tersebut oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” paparnya.
Salah satu bagian yang menarik dalam seminar ini adalah penyampaian studi kasus dan simulasi identifikasi serangan phishing. Peserta diajak untuk menganalisis contoh email, pesan singkat, dan situs web palsu yang dirancang menyerupai institusi resmi. Melalui pendekatan tersebut, peserta dapat memahami secara langsung karakteristik dan indikator yang dapat digunakan untuk mengenali upaya penipuan digital.
Interaksi yang terjalin selama sesi diskusi menunjukkan tingginya antusiasme peserta terhadap isu keamanan siber. Berbagai pertanyaan diajukan terkait keamanan transaksi digital, perlindungan akun media sosial, risiko penggunaan kecerdasan buatan dalam kejahatan siber, hingga langkah hukum yang dapat ditempuh apabila menjadi korban penipuan digital.
Penyelenggaraan E-Seminar Nasional ini sejalan dengan komitmen STIE Kasih Bangsa dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan profesional, tetapi juga memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan global. Di tengah percepatan transformasi digital yang terjadi di berbagai sektor, kemampuan memahami risiko dan menjaga keamanan informasi menjadi kompetensi yang semakin penting bagi generasi masa depan.
Melalui kegiatan ini, STIE Kasih Bangsa berharap dapat berkontribusi dalam membangun budaya literasi digital yang lebih kuat, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keamanan siber, serta mendorong terciptanya ekosistem digital yang aman, produktif, dan berkelanjutan. Edukasi mengenai keamanan siber tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar yang harus dimiliki oleh setiap individu agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Dengan terselenggaranya seminar nasional ini, STIE Kasih Bangsa kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif menghadirkan ruang-ruang akademik yang relevan dengan dinamika perkembangan zaman. Melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat, diharapkan lahir pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya keamanan digital sebagai fondasi utama dalam mewujudkan transformasi digital yang inklusif, aman, dan berdaya saing di masa depan.